Malam Nishfu Sya’ban dalam Pandangan Mazhab Syafi’i dan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
Malam Nishfu Sya’ban adalah malam pertengahan bulan Sya’ban, yaitu pada tanggal 15 Sya’ban dalam kalender Hijriyah. Dalam tradisi umat Islam, khususnya menurut Mazhab Syafi’i dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), malam ini dipandang sebagai salah satu malam yang memiliki keutamaan dan layak untuk dihidupkan dengan amal ibadah.
Dasar Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Beberapa hadis menjelaskan tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ath-Thabrani, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
Meskipun sebagian hadis tentang Nishfu Sya’ban memiliki kualitas dha’if, namun menurut ulama Aswaja, hadis-hadis tersebut saling menguatkan (hasan li ghairihi). Oleh karena itu, keutamaan malam Nishfu Sya’ban dapat diamalkan dalam bentuk fadhailul a’mal (keutamaan amal).
Pandangan Ulama Mazhab Syafi’i
Ulama besar Mazhab Syafi’i seperti Imam asy-Syafi’i, Imam al-Ghazali, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa malam Nishfu Sya’ban termasuk malam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah.
Imam asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm menyebutkan bahwa doa pada beberapa malam istimewa lebih mudah dikabulkan, di antaranya malam Nishfu Sya’ban. Hal ini menunjukkan bahwa menghidupkan malam tersebut dengan ibadah merupakan amalan yang baik dan memiliki dasar.
Amalan yang Dianjurkan pada Malam Nishfu Sya’ban
Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, amalan pada malam Nishfu Sya’ban tidak bersifat wajib, namun dianjurkan (sunnah), antara lain:
-
Memperbanyak istighfar dan taubat, memohon ampunan kepada Allah SWT.
-
Membaca Al-Qur’an, baik secara individu maupun berjamaah.
-
Melaksanakan shalat sunnah, seperti shalat malam atau shalat sunnah mutlak.
-
Memperbanyak doa, khususnya memohon keselamatan, umur yang berkah, dan rezeki yang halal.
-
Mempererat silaturahmi dan menghilangkan permusuhan, karena permusuhan menjadi penghalang ampunan Allah.
Amalan-amalan tersebut dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, tanpa meyakini adanya tata cara khusus yang bersifat wajib atau mengikat.
Sikap Moderat Ahlus Sunnah wal Jamaah
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah mengajarkan sikap tawassuth (moderat) dalam menyikapi malam Nishfu Sya’ban. Tidak mengingkari keutamaannya, namun juga tidak berlebih-lebihan dalam pengamalannya. Semua ibadah dilakukan berdasarkan niat ikhlas dan tetap berpegang pada tuntunan syariat.
Tradisi seperti yasinan, doa bersama, dan pengajian yang dilakukan di masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariat, dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan ukhuwah Islamiyah.
Penutup
Malam Nishfu Sya’ban merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Dalam pandangan Mazhab Syafi’i dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, menghidupkan malam ini dengan amalan kebaikan adalah perbuatan terpuji yang sejalan dengan ajaran Islam.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan ampunan dan keberkahan pada malam Nishfu Sya’ban. Aamiin.















