Juara 1 Turnamen Basket SMANEJA CUP 2026

Tim Basket putti UPT SD Negeri Jingglong 01 meraih juara 1 dalam Turnamen Basket SMANEJA CUP 2026.

Penyampaian Penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi

Kepala UPT SD Negeri Jingglong 01 menyampaikan penghargaan kepada siswa-siswi yang berprestasi.

Kepala UPT SD Negeri Jingglong 01

Rudi Hartono, S.PdI,.S.Pd Kepala UPT SD Negeri Jingglong 01.

Siswa-siswi UPT SD Negeri Jingglong 01

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Artikel Keagamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Keagamaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2026

UPT SD Negeri Jingglong 01 Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

 

UPT SD Negeri Jingglong 01 Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

Jingglong, Sutojayan – Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, keluarga besar UPT SD Negeri Jingglong 01 menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh siswa, orang tua/wali murid, serta masyarakat.

Momentum Idul Fitri merupakan hari yang penuh kebahagiaan dan keberkahan setelah umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Hari yang fitri ini menjadi waktu yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Keluarga besar sekolah mengucapkan:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَجَعَلَنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ

Taqabbalallahu minna wa minkum, wa ja‘alana minal ‘aidin wal faizin.

Artinya:
“Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (fitri) dan meraih kemenangan.”



Selain itu, dengan penuh kerendahan hati disampaikan pula:

Mohon maaf lahir dan batin.

Hari Raya Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan kemenangan, tetapi juga momentum refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik—menjunjung tinggi nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap saling menghormati, sebagaimana yang senantiasa ditanamkan dalam dunia pendidikan di UPT SD Negeri Jingglong 01.

Kepala sekolah, dewan guru, serta seluruh tenaga kependidikan berharap semoga semangat kebaikan yang telah dibangun selama bulan Ramadan dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.



Semoga di hari yang fitri ini, kita semua kembali dalam keadaan suci, penuh keberkahan, serta diberikan kesehatan dan keselamatan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selasa, 10 Maret 2026

Mengenal Malam Lailatul Qadar: Malam Penuh Kemuliaan di Bulan Ramadhan

 

Mengenal Malam Lailatul Qadar: Malam Penuh Kemuliaan di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan bagi umat Islam. Di dalamnya terdapat satu malam yang sangat istimewa dan dinantikan oleh seluruh umat Muslim, yaitu Malam Lailatul Qadar. Malam ini dikenal sebagai malam yang penuh kemuliaan dan keutamaan, bahkan nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Allah SWT menjelaskan tentang kemuliaan malam ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadr ayat 1–5 yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, dan pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi membawa rahmat serta kedamaian hingga terbit fajar.

Karena kemuliaannya yang luar biasa, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam tersebut, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta memperbanyak doa dan istighfar.

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul Qadar memiliki berbagai keutamaan yang luar biasa, di antaranya:

1. Lebih baik dari seribu bulan
Ibadah yang dilakukan pada malam ini memiliki nilai pahala yang lebih baik dibandingkan ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun lebih.

2. Malam turunnya Al-Qur’an
Lailatul Qadar merupakan malam ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.

3. Turunnya para malaikat
Pada malam tersebut para malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi membawa rahmat, keberkahan, serta mendoakan orang-orang yang beribadah.

4. Malam penuh kedamaian dan ampunan
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.




Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?

Waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti. Namun Rasulullah SAW memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan.

Dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar memiliki hikmah agar umat Islam bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah pada seluruh malam di akhir Ramadhan. Dengan demikian, setiap malam menjadi kesempatan untuk meraih pahala dan keberkahan dari Allah SWT.

Doa yang Dianjurkan pada Malam Lailatul Qadar

Sayyidah Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang sebaiknya dibaca jika bertemu malam Lailatul Qadar. Rasulullah SAW kemudian mengajarkan doa berikut:

اللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni

Artinya:
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Penutup

Malam Lailatul Qadar merupakan kesempatan besar bagi umat Islam untuk mendapatkan pahala yang sangat besar dan ampunan dari Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, doa, membaca Al-Qur’an, dan melakukan berbagai amal kebaikan.

Semoga kita semua, keluarga besar UPT SD Negeri Jingglong 01, dapat meraih keberkahan malam Lailatul Qadar dan mendapatkan rahmat serta ampunan dari Allah SWT. Aamiin.

Jumat, 06 Maret 2026

Memaknai Peringatan Nuzulul Qur’an: Menumbuhkan Karakter Generasi Anak Indonesia Hebat

 

Memaknai Peringatan Nuzulul Qur’an: Menumbuhkan Karakter Generasi Anak Indonesia Hebat


Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan kemuliaan bagi umat Islam. Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan suci ini adalah Nuzulul Qur’an, yaitu peristiwa turunnya wahyu pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam karena menjadi awal turunnya petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup (hudā) bagi manusia dan menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan.


Sejarah Singkat Turunnya Al-Qur’an

Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau sedang beribadah di Gua Hira. Wahyu pertama yang turun adalah Surat Al-‘Alaq ayat 1–5.

Allah SWT berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Ayat pertama yang turun ini menunjukkan betapa pentingnya membaca, belajar, dan mencari ilmu dalam Islam.

Dalam penjelasan para ulama, Al-Qur’an diturunkan dalam dua tahap. Pertama, diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia pada malam yang penuh kemuliaan. Kedua, diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun sesuai dengan kebutuhan umat.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”
(QS. Al-Qadr: 1)

Hikmah Peringatan Nuzulul Qur’an

Peringatan Nuzulul Qur’an memiliki banyak hikmah bagi umat Islam, di antaranya:

  1. Mengingat kembali sejarah turunnya Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.

  2. Menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dengan memperbanyak membaca dan mempelajarinya.

  3. Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

  4. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW juga bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)

Hadits ini menjadi motivasi bagi umat Islam, khususnya para pelajar, untuk terus belajar dan mencintai Al-Qur’an.

Menguatkan Pendidikan Karakter melalui Al-Qur’an

Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an sangat relevan dengan pendidikan karakter di sekolah. Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, serta sikap saling menghormati.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra’: 9)

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an menjadi pedoman bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang benar dan bermakna.

Menanamkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Momentum Nuzulul Qur’an juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, antara lain

  1. Bangun PagiMemulai hari lebih awal agar lebih siap dan produktif.
  2. BeribadahMembentuk karakter religius dan moral yang kuat, serta rasa syukur.
  3. BerolahragaMenjaga kesehatan fisik dan mental, serta melatih disiplin.
  4. Makan Sehat dan BergiziMemberikan nutrisi optimal untuk tumbuh kembang dan konsentrasi.
  5. Gemar BelajarMengasah rasa ingin tahu, kreativitas, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
  6. BermasyarakatMengembangkan empati, gotong royong, dan tanggung jawab sosial.
  7. Tidur CepatMemastikan istirahat yang cukup agar tubuh dan pikiran pulih untuk aktivitas esok hari.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang menekankan pentingnya akhlak mulia.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)

Penutup

Peringatan Nuzulul Qur’an bukan hanya sekadar mengenang sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan keagamaan di sekolah, diharapkan para siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan di sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk generasi Anak Indonesia Hebat yang siap membangun masa depan bangsa. (RH)



Selasa, 17 Februari 2026

UPT SD Negeri Jingglong 01 Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H / 2026 M

 

UPT SD Negeri Jingglong 01 Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 H / 2026 M

Jingglong – Keluarga besar UPT SD Negeri Jingglong 01 mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 Hijriah / 2026 Masehi kepada seluruh peserta didik, orang tua/wali murid, pendidik, tenaga kependidikan, serta masyarakat umum.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, ampunan, dan rahmat dari Allah SWT. Momentum ini diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan sikap disiplin, kesabaran, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala UPT SD Negeri Jingglong 01 menyampaikan harapan agar seluruh warga sekolah dapat memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, tidak hanya dengan menjalankan ibadah puasa, tetapi juga dengan memperbanyak amal kebaikan, membaca Al-Qur’an, serta menjaga perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur pendidikan dan keislaman.




Selama bulan Ramadhan, sekolah juga mendorong peserta didik untuk tetap semangat belajar, menjaga kesehatan, serta mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan kepada kita semua dan menerima seluruh amal ibadah yang kita lakukan di bulan suci Ramadhan ini.

Marhaban ya Ramadhan.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bertakwa

Puasa Ramadhan Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah (Asy‘ariyah–Maturidiyah) dan Fikih Empat Mazhab

 

Puasa Ramadhan Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah (Asy‘ariyah–Maturidiyah) dan Fikih Empat Mazhab

Pendahuluan

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Kewajiban ini didasarkan pada Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ ulama. Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, pemahaman tentang puasa dijelaskan secara komprehensif melalui aqidah Asy‘ariyah–Maturidiyah dan dipraktikkan melalui fikih empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali.


Pengertian Puasa Ramadhan

Puasa (shaum) secara bahasa berarti menahan diri. Secara istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa—seperti makan, minum, dan hubungan suami istri—sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat karena Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) yang menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman sebagaimana diwajibkan atas umat terdahulu, agar mencapai derajat takwa.




Puasa dalam Aqidah Asy‘ariyah dan Maturidiyah

Dalam pandangan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diwakili oleh Asy‘ariyah dan Maturidiyah, puasa Ramadhan dipahami sebagai:

  1. Perintah syar‘i dari Allah SWT yang wajib ditaati oleh setiap mukallaf.

  2. Ibadah ta‘abbudiyah, yakni ibadah yang pelaksanaannya bersifat tunduk dan patuh kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

  3. Sarana penyucian jiwa dan pembentukan akhlak, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu dan perilaku tercela.

Puasa diyakini memiliki hikmah ilahiyah yang mungkin tidak seluruhnya dapat dijangkau oleh akal manusia, namun wajib diimani dan diamalkan.


Puasa Ramadhan Menurut Fikih Empat Mazhab

1. Mazhab Hanafi

Menurut Imam Abu Hanifah, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat.
Ciri khas mazhab Hanafi:

  • Niat puasa Ramadhan boleh dilakukan hingga sebelum zawal (tengah hari), selama belum melakukan pembatal puasa.

  • Penekanan pada kemudahan (taysir) bagi umat.

2. Mazhab Maliki

Menurut Imam Malik bin Anas, puasa adalah menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan sejak fajar hingga maghrib dengan niat.
Ciri khas mazhab Maliki:

  • Niat puasa Ramadhan cukup sekali untuk sebulan penuh (selama tidak terputus).

  • Penekanan kuat pada praktik penduduk Madinah.

3. Mazhab Syafi‘i

Menurut Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i, puasa adalah menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa sejak fajar hingga maghrib dengan niat yang dilakukan setiap malam.
Ciri khas mazhab Syafi‘i:

  • Niat puasa wajib dilakukan setiap malam sebelum fajar.

  • Mazhab ini banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia.

4. Mazhab Hanbali

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan pembatal lainnya disertai niat.
Ciri khas mazhab Hanbali:

  • Hampir serupa dengan mazhab Syafi‘i dalam kewajiban niat setiap malam.

  • Sangat kuat berpegang pada dalil hadits.


Kesimpulan

Puasa Ramadhan menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan aqidah Asy‘ariyah–Maturidiyah dan fikih empat mazhab memiliki dasar yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Perbedaan yang ada di antara mazhab hanyalah pada cabang-cabang fikih (furu‘iyyah) dan merupakan rahmat serta kekayaan khazanah keilmuan Islam.

Dengan memahami puasa Ramadhan secara benar, diharapkan umat Islam dapat menjalankannya dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan ketakwaan, sehingga mampu meraih predikat insan muttaqin.

Senin, 02 Februari 2026

Malam Nishfu Sya’ban dalam Pandangan Mazhab Syafi’i dan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah

 

Malam Nishfu Sya’ban dalam Pandangan Mazhab Syafi’i dan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Malam Nishfu Sya’ban adalah malam pertengahan bulan Sya’ban, yaitu pada tanggal 15 Sya’ban dalam kalender Hijriyah. Dalam tradisi umat Islam, khususnya menurut Mazhab Syafi’i dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), malam ini dipandang sebagai salah satu malam yang memiliki keutamaan dan layak untuk dihidupkan dengan amal ibadah.

Dasar Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Beberapa hadis menjelaskan tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ath-Thabrani, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah melihat kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Meskipun sebagian hadis tentang Nishfu Sya’ban memiliki kualitas dha’if, namun menurut ulama Aswaja, hadis-hadis tersebut saling menguatkan (hasan li ghairihi). Oleh karena itu, keutamaan malam Nishfu Sya’ban dapat diamalkan dalam bentuk fadhailul a’mal (keutamaan amal).



Pandangan Ulama Mazhab Syafi’i

Ulama besar Mazhab Syafi’i seperti Imam asy-Syafi’i, Imam al-Ghazali, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa malam Nishfu Sya’ban termasuk malam yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah.

Imam asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm menyebutkan bahwa doa pada beberapa malam istimewa lebih mudah dikabulkan, di antaranya malam Nishfu Sya’ban. Hal ini menunjukkan bahwa menghidupkan malam tersebut dengan ibadah merupakan amalan yang baik dan memiliki dasar.

Amalan yang Dianjurkan pada Malam Nishfu Sya’ban

Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, amalan pada malam Nishfu Sya’ban tidak bersifat wajib, namun dianjurkan (sunnah), antara lain:

  1. Memperbanyak istighfar dan taubat, memohon ampunan kepada Allah SWT.

  2. Membaca Al-Qur’an, baik secara individu maupun berjamaah.

  3. Melaksanakan shalat sunnah, seperti shalat malam atau shalat sunnah mutlak.

  4. Memperbanyak doa, khususnya memohon keselamatan, umur yang berkah, dan rezeki yang halal.

  5. Mempererat silaturahmi dan menghilangkan permusuhan, karena permusuhan menjadi penghalang ampunan Allah.

Amalan-amalan tersebut dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, tanpa meyakini adanya tata cara khusus yang bersifat wajib atau mengikat.

Sikap Moderat Ahlus Sunnah wal Jamaah

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah mengajarkan sikap tawassuth (moderat) dalam menyikapi malam Nishfu Sya’ban. Tidak mengingkari keutamaannya, namun juga tidak berlebih-lebihan dalam pengamalannya. Semua ibadah dilakukan berdasarkan niat ikhlas dan tetap berpegang pada tuntunan syariat.

Tradisi seperti yasinan, doa bersama, dan pengajian yang dilakukan di masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariat, dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan ukhuwah Islamiyah.

Penutup

Malam Nishfu Sya’ban merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia. Dalam pandangan Mazhab Syafi’i dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, menghidupkan malam ini dengan amalan kebaikan adalah perbuatan terpuji yang sejalan dengan ajaran Islam.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan ampunan dan keberkahan pada malam Nishfu Sya’ban. Aamiin.

Jumat, 16 Januari 2026

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H di UPT SD Negeri Jingglong 01

 

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H di UPT SD Negeri Jingglong 01

UPT SD Negeri Jingglong 01 menyelenggarakan kegiatan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1447 H pada Sabtu, 17 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di aula sekolah dengan diikuti oleh seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga tamu undangan.


Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh siswa, yang menambah suasana religius sejak awal acara. Selanjutnya, hadirin disuguhkan dengan penampilan grup sholawat dan nasyid dari siswa-siswi UPT SD Negeri Jingglong 01 yang tampil dengan penuh semangat dan percaya diri.




Dalam sambutannya, Kepala UPT SD Negeri Jingglong 01, Bapak Rudi Hartono, S.Pd, menyampaikan bahwa peringatan Isra’ Mi’raj ini merupakan momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai keimanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW kepada para siswa sejak dini. Beliau berharap melalui kegiatan ini, siswa dapat semakin meningkatkan akhlak mulia serta kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.

Acara inti diisi dengan tausiyah oleh Ustadz Nawang Lukman Priyonggo, S.Ag., M.Pd. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan hikmah peristiwa Isra’ Mi’raj, khususnya tentang pentingnya sholat sebagai tiang agama serta ketaatan kepada Allah SWT. Penyampaian tausiyah yang lugas dan inspiratif membuat para peserta mengikuti acara dengan penuh perhatian.

Kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj ini ditutup dengan doa bersama, dengan harapan seluruh warga sekolah senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, dan kemudahan dalam menuntut ilmu serta menjalankan tugas masing-masing.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, UPT SD Negeri Jingglong 01 berharap dapat terus membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berprestasi.