Selasa, 17 Februari 2026

Puasa Ramadhan Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah (Asy‘ariyah–Maturidiyah) dan Fikih Empat Mazhab

 

Puasa Ramadhan Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah (Asy‘ariyah–Maturidiyah) dan Fikih Empat Mazhab

Pendahuluan

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Kewajiban ini didasarkan pada Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ ulama. Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, pemahaman tentang puasa dijelaskan secara komprehensif melalui aqidah Asy‘ariyah–Maturidiyah dan dipraktikkan melalui fikih empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali.


Pengertian Puasa Ramadhan

Puasa (shaum) secara bahasa berarti menahan diri. Secara istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa—seperti makan, minum, dan hubungan suami istri—sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat karena Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183) yang menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman sebagaimana diwajibkan atas umat terdahulu, agar mencapai derajat takwa.




Puasa dalam Aqidah Asy‘ariyah dan Maturidiyah

Dalam pandangan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diwakili oleh Asy‘ariyah dan Maturidiyah, puasa Ramadhan dipahami sebagai:

  1. Perintah syar‘i dari Allah SWT yang wajib ditaati oleh setiap mukallaf.

  2. Ibadah ta‘abbudiyah, yakni ibadah yang pelaksanaannya bersifat tunduk dan patuh kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

  3. Sarana penyucian jiwa dan pembentukan akhlak, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu dan perilaku tercela.

Puasa diyakini memiliki hikmah ilahiyah yang mungkin tidak seluruhnya dapat dijangkau oleh akal manusia, namun wajib diimani dan diamalkan.


Puasa Ramadhan Menurut Fikih Empat Mazhab

1. Mazhab Hanafi

Menurut Imam Abu Hanifah, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat.
Ciri khas mazhab Hanafi:

  • Niat puasa Ramadhan boleh dilakukan hingga sebelum zawal (tengah hari), selama belum melakukan pembatal puasa.

  • Penekanan pada kemudahan (taysir) bagi umat.

2. Mazhab Maliki

Menurut Imam Malik bin Anas, puasa adalah menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan sejak fajar hingga maghrib dengan niat.
Ciri khas mazhab Maliki:

  • Niat puasa Ramadhan cukup sekali untuk sebulan penuh (selama tidak terputus).

  • Penekanan kuat pada praktik penduduk Madinah.

3. Mazhab Syafi‘i

Menurut Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i, puasa adalah menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa sejak fajar hingga maghrib dengan niat yang dilakukan setiap malam.
Ciri khas mazhab Syafi‘i:

  • Niat puasa wajib dilakukan setiap malam sebelum fajar.

  • Mazhab ini banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia.

4. Mazhab Hanbali

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan pembatal lainnya disertai niat.
Ciri khas mazhab Hanbali:

  • Hampir serupa dengan mazhab Syafi‘i dalam kewajiban niat setiap malam.

  • Sangat kuat berpegang pada dalil hadits.


Kesimpulan

Puasa Ramadhan menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan aqidah Asy‘ariyah–Maturidiyah dan fikih empat mazhab memiliki dasar yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Perbedaan yang ada di antara mazhab hanyalah pada cabang-cabang fikih (furu‘iyyah) dan merupakan rahmat serta kekayaan khazanah keilmuan Islam.

Dengan memahami puasa Ramadhan secara benar, diharapkan umat Islam dapat menjalankannya dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan ketakwaan, sehingga mampu meraih predikat insan muttaqin.

0 komentar:

Posting Komentar